Oleh :

| 08:07 WIB – Kamis, 18 Mei 2017

 

Ingin nama domain internet Anda tampil beda, sekaligus ikut melestarikan bahasa daerah? Kini Anda bisa melakukannya.

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), pada Rabu (16/5/2017), meluncurkan tiga layanan baru berbasis internet. Salah satunya adalah meluncurkan Internationalized Domain Name (IDN) untuk lima aksara Nusantara.

IDN adalah sistem penggunaan aksara non-latin sebagai nama domain internet dan sudah digunakan di beberapa negara yang penduduknya lebih banyak menggunakan aksara non-latin seperti Tiongkok, Arab Saudi, Jepang, dan Rusia.

Walau penduduk Indonesia lebih dominan menggunakan aksara latin, Ketua PANDI Andi Budimansyah menyatakan penggunaan IDN bisa membantu melestarikan aksara-aksara lokal Nusantara.

Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah yang beberapa di antaranya memiliki aksara sendiri.

“Namun semakin hari, aksara-aksara ini semakin tidak dikenal oleh masyarakat, bahkan banyak yang sudah punah,” ujar Andi dalam siaran pers yang diterima Beritagar.id.

PANDI menemukan setidaknya ada lima aksara lokal yang masih bertahan dan cukup banyak digunakan di Indonesia, yaitu Jawa, Sunda, Bali, Bugis, dan Batak.

Mereka lalu memulai riset IDN untuk kelima aksara Nasional tersebut setahun lalu dan kini kelimanya sudah bisa digunakan sebagai nama domain dengan akhiran .id (dot id).

“Apabila ada yang ingin membuat situs web dengan nama domain lima aksara Nusantara itu, saat ini sudah bisa kami layani,” ujar Andi.

Masalahnya, penggunaan aksara nasional masih sulit dilakukan karena belum ada antarmuka yang bisa langsung digunakan untuk menuliskannya. Pengguna setidaknya harus menginstal program tambahan dan memodifikasi kibor yang digunakan.

Oleh karena itu Andi berharap ada pihak lain, utamanya pengembang program, yang bisa membantu mereka yang ingin menggunakan aksara bahasa daerah dengan lebih mudah.

“Perkembangan teknologi seharusnya tidak menjauhkan, namun justru mendekatkan masyarakat dengan akar budayanya,” kata Andi.

Layanan kedua yang diluncurkan adalah layanan single sign-on (SSO) “u.id”, yang memungkinkan pengguna masuk pada beberapa layanan berbasis internet tanpa harus mendaftar berkali-kali.

SSO sudah banyak digunakan oleh beberapa situs besar seperti Facebook, Google, Twitter, dan Yahoo!, yang melakukan verifikasi dengan menggunakan alamat surel dan nomor ponsel.

PANDI menawarkan SSO yang agak beda. Selain alamat surel dan nomor ponsel, u.id dirancang untuk melakukan verifikasi Nomor Induk Kependudukan pada basis data kependudukan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.

“Dengan verifikasi ini, tidak ada lagi anonimitas dan semua pihak mendapatkan data yang valid dan terpercaya,” kata Andi.

Aplikasi u.id dapat dimanfaatkan oleh pengembang aplikasi dengan menggunakan API standar OAuth 2.0 dan JSON Webservice. Seperti layanan SSO lainnya, pengguna juga dapat membatasi data-data apa saja yang bisa diambil oleh layanan aplikasi pihak ketiga.

“Sistem u.id memastikan seorang pengguna tidak dapat memalsukan atau melakukan duplikasi data, sehingga sangat sesuai untuk layanan berbasis internet yang membutuhkan tingkat kepercayaan tinggi seperti e-commerce, media sosial, atau layanan berbasis internet lainnya,” imbuh Andi.

Layanan ketiga yang luncurkan PANDI hari ini adalah Blog my.id, platform blog berbasis WordPress yang ditempatkan pada server PANDI di dalam negeri.

“Selain menggunakan server di dalam negeri, seluruh pengguna blog ini mendapatkan nama domain my.id gratis selamanya,” ujar Andi.

Untuk mendaftarkan diri di blog my.id, pengguna harus mendaftarkan diri di u.id. Satu akun u.id hanya dapat mendaftarkan satu akun di blog my.id. “Dengan cara ini, semua blog diketahui dengan pasti siapa pemiliknya,” jelas Andi.

Hal itu diperlukan untuk mengurangi kemunculan blog yang berisi kabar bohong, fitnah, penipuan, dan kejahatan lainnya.

“Karena seluruh blog dengan platform ini diketahui dengan pasti siapa pemiliknya, pengguna akan lebih bertanggung jawab dalam membuat konten untuk blognya,” pungkas Andi.

 

Sumber: https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/cara-pandi-ikut-melestarikan-aksara-lokal